Gelisah
dok. pri. Ikhwanul Halim

Gelisah

Views: 58

Di pintu depan, seorang pria meminta maaf, “Maaf, tidak bermaksud mengganggu tidur Anda.”

Rieke membentak, “Aku tidak pernah tidur di siang hari.”

Karena lapar, dia baru saja mengiris daging sapi untuk dijadikan isi kebab.

“Saya mewakili calon walikota, Karep Pangesang.” orang asing itu tersenyum penuh harap.

Rieke menggeram, “Wali kota hanya tahu menaikkan pajak pendapatan daerah, merugikan orang tua.”

“Tidak, tidak, tidak juga.” Pria itu menyeringai menyebalkan.

Rieke masih memegang pisau dan entah bagaimana menyelipkannya di antara tulang rusuk pria itu. Sambil menghela napas berat, wanita tua itu merasa tidak ada yang bisa membuatnya gelisah sekarang.

Orang asing kurus itu ambruk. Kemeja putihnya berlumuran darah. Dia tidak bersuara ketika Rieke menggulingkannya hingga tidak terlihat dari jalan.

Sebagai pengalih perhatian, dia memperhatikan pondok tempat tinggalnya yang dibangun ayah tirinya. Melihat dirinya lebih muda, di bawah tangga. Tersembunyi dari tamparan keras ibunya atau ayah tirinya yang pemarah. Rieke mengerutkan kening, meskipun orang tuanya sudah lama pergi ke neraka. Dia berharap mereka ke neraka.

Tidak ada pagar beranda dan hanya rumput liar tumbuh di bawahnya.

Dia menggali lubang yang dalam. Tubuh pria itu berguling dari beranda dengan mudah, jatuh ke dalam lubang seperti sekantong pupuk kandang. Dia menumpuk tanah, menabur benih mawar tongkat dan cecalung. Membayangkan bunga-bunga yang rimbun dan berwarna-warni tumbuh. Membayangkan pujian dari tetangga.

Beranda depan rumah perlu dibersihkan.

Rieke menyemprotkan air dengan selang. Selanjutnya, dia dengan hati-hati mengoleskan cat di lantai.

Cikarang, 7 Oktober 2024

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *