Berlari dan Menunggu
dok. pri. Ikhwanul Halim

Berlari dan Menunggu

Views: 48

Bunga rengganis yang lebih pucat dari pucat, putih dari putih, membungkuk ke arah jalan setapak yang terbenam di bawah jalan karena panas. Panas yang berkilauan telah melelehkan kelopak bunga rengganis dari tangkainya, mengendap seperti bunga lili air yang berwarna kecokelatan di rerumputan. Namun, rerumputan tidak jatuh ke jalan setapak karena tak membutuhkan air.

Jalan setapak itu berupa cekungan yang dalam, sehingga seorang gadis kecil dapat berlari dengan anjingnya di satu sisi dan berhasil naik di sisi lainnya sebelum kehabisan napas.

Gadis kecil itu berlari menyusuri jalan setapak, lututnya yang tertekuk berdesing lebih cepat dari yang dapat ditangkap mata manusia. Ada percikan, tetapi bukan hanya air.

Anjing itu menarik tali dan menyeret anak itu, berusaha keras untuk maju. Lutut gadis kecil itu yang tergores berdarah dalam air yang mengalir. Dia mendorong dirinya ke atas untuk berdiri, terisak sejenak.

Dia memanggil anjingnya. Memanggil anjing itu dengan sebutan nama. Anjing itu duduk di trotoar yang panas, acuh tak acuh. Bahasa manusia bukanlah bahasa pertamanya. Gadis kecil itu mengusap lututnya dengan tisu. Panas matahari telah mengeringkan aliran darah.

Anjing itu menunggu, seperti yang biasa dilakukan anjing. Trotoar terasa hangat. Menunggu bukanlah hal yang sulit. Kebosanan tidak ada dalam pengalamannya, atau kosakatanya.

Luka gores terasa perih karena panas. Gadis kecil itu menepis perih itu dari benaknya. Rasa mengasihani diri sendiri tidak ada dalam pengalamannya, atau kosakatanya.

Cikarang, 9 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *